Dede
Aku mandi secepat kilat. Berdandan ala kadarnya dan menggendong ransel seberat karung beras yang isinya draft novel. Akan kuyakinkan editor itu dengan penampilanku yang setengah prihatin ini. Ia pasti mengira aku seniman. Atau malah aku dikira orang sinting yang butuh vitamin antidepresan?
Di pintu, Chi menghadangku. Ia berkacak pinggang bak opsir galak yang menangkap basah pencuri. Ia cemberut sambil menatapku tajam, mirip banteng yang menyumpahi akan menghabisi si matador.
“Dede!!! Apa-apaan sih lo???? Katro tauk!”
Aku mencari celah untuk meloloskan diri. Tapi dengan gesit Chi menghadang dari kiri juga kanan, mirip gerakan senam aerobik. Up and down, up and down. Wow!
“Gue udah telat, Chi!” teriakku.
Chi menarik tanganku masuk ke kamar lagi, melucuti semua yang aku pakai termasuk sepatu boot peninggalan ayahku, dan membuatku setengah bugil dengan bra dan celana dalam. Ia mengomel tak jelas. Mengata-ngataiku orang gila lah, petani masuk kota lah, penggembala sapi kehilangan sapi lah, dan dia terus berbicara memaki aku tanpa jeda. Lemariku dibongkar. Baju-bajuku dipadupadankan. Mirip permainan memasang puzzle. Aku sendiri berdiri di pojok kamar sambil makan permen karet.
“Ini dia” gumam Chi.
Kaos putih berkerah sabrina dengan tulisan I’m rock star, rok selutut warna hijau army dengan potongan tidak simetris, kalung manik sebesar pilus warna hitam dan flat shoes putih. Rambutku dikuncir kuda. Kata Chi, aku tampak kinclong. Setelah selesai di make over dia pun mendepakku keluar. Aku sendiri merasa sedikit aneh dengan gaya yang tidak biasanya. Berasa jadi remaja berusia 17 tahunan.
Sampai di Blue, aku langsung menghampiri perempuan yang duduk di meja nomer empat. Sebelumnya kami sudah mengatur jadwal pertemuan lewat sms. Aku terlambat lima menit. Semoga dia mau membagi ampun. Kata Chi, temannya itu manusia paling on time. Pada jarak setengah meter tepat di depannya, kusapa dia dengan jurus pamungkasku.
“Halo” Kuucapkan dengan sedikit malu-malu sambil melempar senyum Ibu Kartini. Senyum innocent yang mampu meluluhlantakkan hati siapa saja.
“Hei, Dede ya? Saya Paramitha”
Perempuan itu mirip eksekutif muda. Sangat tegas dan ramah. Ia menyalamiku dengan genggaman yang sangat erat kemudian mempersilahkan aku duduk dan memesankan aku minuman. Berdasarkan ilmu palmistry yang pernah aku pelajari, dia pasti orang dengan gairah hidup yang tinggi. Kami tak perlu mengobrol kesana-kemari, tapi langsung ke pokok permasalahan. Dia juga menanyakan pengalamanku dalam bidang jurnalistik. Aku bilang aku pernah jadi reporter majalah kampus. Dia malah tertawa terbahak-bahak. Tidak percaya. Aku bingung tapi ikut-ikutan terbahak untuk menghormatinya. Dia bilang aku orang yang sangat rendah hati. Kira-kira kalau dalam Bahasa Inggris ‘down to earth’, oh…
“Chi, banyak cerita tentang kamu”
Mampus. Ini dia biang keladinya. Chi pasti cerita yang tidak-tidak. Aku yakin, dia pasti mengelabuhi perempuan ini dengan kisah-kisah palsu. Untung Paramitha tidak bertanya macam-macam. Dia langsung mengambil draft dan berjanji akan segera mengabariku untuk memutuskan nasib draft itu selanjutnya. Setelah itu dia meneguk minumannya, aku juga. Dan kami pun pulang dengan perasaan puas sampai ke jantung. Aku senyum lebar di dalam bus kota dan tidak sabar untuk memberitahu Chi.
BUKeT
BUKeT koffee + jazz. Rumahku dan Chi yang ketiga setelah kontrakan dan Blue. Disinilah kami menikmati malam dari ketinggian sambil merangkai angan-angan. Musik jazz yang tak pernah tergantikan itu bisa membuat kami tak ingin meninggalkan tempat ini. Sederhana namun unik karena tak ada waiters yang datang menghampiri kami untuk menyodorkan buku menu. Pengunjunglah yang menghampiri bar dan memesan. Semua menu minuman tertulis rapi dengan kapur pada papan tulis hitam klasik. Istimewanya lagi, BUKeT hanya menawarkan minuman, tak ada makanan meski hanya sekedar cemilan.
Ruangan sempit ini barangkali lebih cocok dijadikan kamar kos ketimbang tempat minum. Tapi, itulah menariknya karena kehangatan merebak dimana-mana begitu kami masuk. Chi langsung merebah di sofa empuk warna biru seperti di kontrakan kami sendiri.
“Ginger Chocolate” katanya.
“Ginger Chocolate dua” kataku memesan, meski mataku masih membaca deretan menu yang terpampang di dinding.
Selalu begitu. Selalu bingung memilih karena semua minuman memiliki cita rasa yang menggigit lidah kami. Semuanya berkesan. Seperti menjalin kisah cinta dengan beberapa tipe pria. Contohnya Ginger Chocolate yang malam ini jadi pilihan kami berdua, perpaduan antara coklat yang legit dengan jahe yang menawarkan kehangatan sampai ke sel-sel darah. Selain coklat, ditawarkan minuman yang dibuat dari beraneka jenis kopi, juga teh. Entah dari mana munculnya ilham pembuatan kafe ini.
Malam ini kami memilih duduk di dalam karena udara di luar begitu dingin. Padahal pemandangan di luar masih sama indahnya seperti hari-hari sebelumnya. Dari ketinggian kami bisa lihat lampu kota di malam hari yang menyerupai lautan berlian.
“Thank you ya, Chi” kataku. “Paramitha bener-bener baik”
“Dia kayak gitu sejak dulu kala, anggun, pintar, dan baik setengah mati” timpal Chi. “serta kaya” Dia mengeluarkan rokok dan koreknya dari tas mungil kemudian meletakkan di meja sampai pada akhirnya menyulut sebatang rokok untuk mengusir dingin.
BUKeT tak kenal area bebas asap rokok.
“Gue kangen Teddy” kata Chi.
“Teddy?” aku tertawa kecil.
Setelah sekian lama topik Teddy menghilang dari permukaan, Chi akhirnya mengangkatnya malam ini. Teddy. Nama yang begitu ditangkap kepalaku pasti kuidentikkan dengan boneka Teddy Bear. Lucu dan menggemaskan seperti bayi yang baru belajar berjalan. Pria yang berada jauh bermil-mil dari tempat kami berpijak. Pria yang tak pernah pulang dan tak pernah tahu kalau ada wanita sebaik Chi menunggunya. Ah, merugi sekali dia.
“Bagaimana gue bisa naksir berat sama pria Sagitarius?” kata Chi.
“Salah naksir” kataku. Chi tertawa kecil.
“Harusnya gue naksir Pisces kayak lo”
“Ya, dan gue harusnya jadi pasangan sejati Scorpio, bukan Cancer yang kurang ajar itu”
“Chandika?”
“Iyalah”
Chi tertawa cekikikan. Pesanan kami datang kemudian. Dave Koz mengiringi kehadiran dua gelas Ginger Chocolate yang mengepul. Aku tak sabar meneguknya. Minuman ini mengingatkan aku pada kehangatan dan keterbukaan Chandika pada tiap wanita.
Oh, akankah dia menemukan Call Me Shark di toko buku? Kuharap ia membacanya dan segera menghubungiku.
“Chandika pasti besar kepala kalo baca buku lo” kata Chi.
“Yah, memang itu yang gue pengen soalnya dia emang layak besar kepala” kataku. “gue masih penasaran, kekurangan macam apa yang dia miliki, yang bisa bikin gue ilang feeling”
“Kentutnya bau kali” kata Chi sambil mencari tissu untuk mengelap coklat yang menempel pada kedua sudut bibir. “ato barangkali dia rajin pergi ke salon, lo kan ga suka pria yang suka nyalon?”
“Idih, jangan sampek deh”
“Lo tau kan, orang-orang yang hampir ga punya kekurangan, biasanya punya kekurangan diluar sangkaan kita yang bisa bikin kita ilang feeling”
Jam sembilan lebih dua puluh. Chi berada pada ‘posisi wuenak’ sambil menulis sms entah untuk siapa. Sedang aku sibuk melipat tissu membentuk bunga teratai kemudian kutumpangi gelas diatasnya. Cawan yang megah. Semakin larut BUKeT makin ramai. Beberapa anak muda mulai berdatangan. Seluruh kursi di dalam atau luar hampir semuanya telah diduduki dan ada bermacam aktivitas di tiap meja mulai dari permainan jemari sampai monopoli.
“Kalau saja pria ibarat cat kuku” kata Chi. “Gue bakal beli nail polish remover sebanyak-banyaknya”
Aku tertawa. Imajinasi Chi kadang-kadang lebih tinggi dari aku dan itulah salah satu kelebihannya yang aku suka. Orang Scorpio tak banyak bicara tapi begitu keluar ide, matilah semua ide yang telah ada.
“Teddy kirim kabar?” tanyaku.
“Ya, kabar angin barangkali. Menulis e-mail pun nggak. Fuih!” kata Chi. “Coba gengsi gue nggak setinggi tiang listrik”
“Makan tuh gengsi” kataku. Padahal aku sendiri juga begitu.
“I’m waiting for a sign, Ted…” pekik Chi gemas.
Aku tertawa. Lucu sekali melihat Chi dibuat kalang kabut seorang pria. Dia bisa jadi sebegitu noraknya.
“Sagitarius kurang peka, Scorpio terlalu gengsi” kataku.
“Jadi menurut lo jalan apa yang harus gue tempuh?”
Everlasting Love-nya Jamie Cullum mengalun ringan dan enerjik. Chi tiba-tiba mengajak Jamie Cullum duet ilegal dengan suara yang bisa didengar hampir semua orang disini dan ia tak peduli. Sahabatku itu tak bertanya lagi tentang jalan apa yang harus dia tempuh. Barangkali dia tahu aku akan menjawab begini “Tentu saja jalan lurus..“