<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>De Divers</title>
	<atom:link href="http://dediver.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dediver.wordpress.com</link>
	<description>...untuk mereka semua yang mencintai hidup.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Apr 2009 10:59:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dediver.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>De Divers</title>
		<link>http://dediver.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dediver.wordpress.com/osd.xml" title="De Divers" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dediver.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Guratan 1 &#8211; lanjutan</title>
		<link>http://dediver.wordpress.com/2009/04/17/guratan-1-lanjutan/</link>
		<comments>http://dediver.wordpress.com/2009/04/17/guratan-1-lanjutan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 11:54:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catastrova Prima</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dediver.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Dede Aku mandi secepat kilat. Berdandan ala kadarnya dan menggendong ransel seberat karung beras yang isinya draft novel. Akan kuyakinkan editor itu dengan penampilanku yang setengah prihatin ini. Ia pasti mengira aku seniman. Atau malah aku dikira orang sinting yang butuh vitamin antidepresan? Di pintu, Chi menghadangku. Ia berkacak pinggang bak opsir galak yang menangkap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dediver.wordpress.com&amp;blog=7371502&amp;post=42&amp;subd=dediver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Dede</strong><br />
Aku mandi secepat kilat. Berdandan ala kadarnya dan menggendong ransel seberat karung beras yang isinya draft novel. Akan kuyakinkan editor itu dengan penampilanku yang setengah prihatin ini. Ia pasti mengira aku seniman. Atau malah aku dikira orang sinting yang butuh vitamin antidepresan?<br />
Di pintu, Chi menghadangku. Ia berkacak pinggang bak opsir galak yang menangkap basah pencuri. Ia cemberut sambil menatapku tajam, mirip banteng yang menyumpahi akan menghabisi si matador.<br />
“Dede!!! Apa-apaan sih lo???? Katro tauk!”<br />
Aku mencari celah untuk meloloskan diri. Tapi dengan gesit Chi menghadang dari kiri juga kanan, mirip gerakan senam aerobik. Up and down, up and down. Wow!<br />
“Gue udah telat, Chi!” teriakku.<br />
Chi menarik tanganku masuk ke kamar lagi, melucuti semua yang aku pakai termasuk sepatu boot peninggalan ayahku, dan membuatku setengah bugil dengan bra dan celana dalam. Ia mengomel tak jelas. Mengata-ngataiku orang gila lah, petani masuk kota lah, penggembala sapi kehilangan sapi lah, dan dia terus berbicara memaki aku tanpa jeda. Lemariku dibongkar. Baju-bajuku dipadupadankan. Mirip permainan memasang puzzle. Aku sendiri berdiri di pojok kamar sambil makan permen karet.<br />
“Ini dia” gumam Chi.<br />
Kaos putih berkerah sabrina dengan tulisan I’m rock star, rok selutut warna hijau army dengan potongan tidak simetris, kalung manik sebesar pilus warna hitam dan flat shoes putih. Rambutku dikuncir kuda. Kata Chi, aku tampak kinclong. Setelah selesai di make over dia pun mendepakku keluar. Aku sendiri merasa sedikit aneh dengan gaya yang tidak biasanya. Berasa jadi remaja berusia 17 tahunan.<br />
Sampai di Blue, aku langsung menghampiri perempuan yang duduk di meja nomer empat. Sebelumnya kami sudah mengatur jadwal pertemuan lewat sms. Aku terlambat lima menit. Semoga dia mau membagi ampun. Kata Chi, temannya itu manusia paling on time. Pada jarak setengah meter tepat di depannya, kusapa dia dengan jurus pamungkasku.<br />
“Halo”  Kuucapkan dengan sedikit malu-malu sambil melempar senyum Ibu Kartini. Senyum innocent yang mampu meluluhlantakkan hati siapa saja.<br />
“Hei,  Dede ya? Saya Paramitha”<br />
Perempuan itu mirip eksekutif muda. Sangat tegas dan ramah. Ia menyalamiku dengan genggaman yang sangat erat kemudian mempersilahkan aku duduk dan memesankan aku minuman. Berdasarkan ilmu palmistry yang pernah aku pelajari, dia pasti orang dengan gairah hidup yang tinggi. Kami tak perlu mengobrol kesana-kemari, tapi langsung ke pokok permasalahan. Dia juga menanyakan pengalamanku dalam bidang jurnalistik. Aku bilang aku pernah jadi reporter majalah kampus. Dia malah tertawa terbahak-bahak. Tidak percaya. Aku bingung tapi ikut-ikutan terbahak untuk menghormatinya. Dia bilang aku orang yang sangat rendah hati. Kira-kira kalau dalam Bahasa Inggris ‘down to earth’, oh&#8230;<br />
“Chi, banyak cerita tentang kamu”<br />
Mampus. Ini dia biang keladinya. Chi pasti cerita yang tidak-tidak. Aku yakin, dia pasti mengelabuhi perempuan ini dengan kisah-kisah palsu. Untung Paramitha tidak bertanya macam-macam. Dia langsung mengambil draft dan berjanji akan segera mengabariku untuk memutuskan nasib draft itu selanjutnya. Setelah itu dia meneguk minumannya, aku juga. Dan kami pun pulang dengan perasaan puas sampai ke jantung. Aku senyum lebar di dalam bus kota dan tidak sabar untuk memberitahu Chi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>BUKeT</strong><br />
BUKeT koffee + jazz. Rumahku dan Chi yang ketiga setelah kontrakan dan Blue. Disinilah kami menikmati malam dari ketinggian sambil merangkai angan-angan. Musik jazz yang tak pernah tergantikan itu bisa membuat kami tak ingin meninggalkan tempat ini. Sederhana namun unik karena tak ada waiters yang datang menghampiri kami untuk menyodorkan buku menu. Pengunjunglah yang menghampiri bar dan memesan. Semua menu minuman tertulis rapi dengan kapur pada papan tulis hitam klasik. Istimewanya lagi, BUKeT hanya menawarkan minuman, tak ada makanan meski hanya sekedar cemilan.<br />
Ruangan sempit ini barangkali lebih cocok dijadikan kamar kos ketimbang tempat minum. Tapi, itulah menariknya karena kehangatan merebak dimana-mana begitu kami masuk. Chi langsung merebah di sofa empuk warna biru seperti di kontrakan kami sendiri.<br />
“Ginger Chocolate” katanya.<br />
“Ginger Chocolate dua” kataku memesan, meski mataku masih membaca deretan menu yang terpampang di dinding.<br />
Selalu begitu. Selalu bingung memilih karena semua minuman memiliki cita rasa yang menggigit lidah kami. Semuanya berkesan. Seperti menjalin kisah cinta dengan beberapa tipe pria. Contohnya Ginger Chocolate yang malam ini jadi pilihan kami berdua,  perpaduan antara coklat yang legit dengan jahe yang menawarkan kehangatan sampai ke sel-sel darah. Selain coklat, ditawarkan minuman yang dibuat dari beraneka jenis kopi, juga teh. Entah dari mana munculnya ilham pembuatan kafe ini.<br />
Malam ini kami memilih duduk di dalam karena udara di luar begitu dingin. Padahal pemandangan di luar masih sama indahnya seperti hari-hari sebelumnya. Dari ketinggian kami bisa lihat lampu kota di malam hari yang menyerupai lautan berlian.<br />
“Thank you ya, Chi” kataku. “Paramitha bener-bener baik”<br />
“Dia kayak gitu sejak dulu kala, anggun, pintar, dan baik setengah mati” timpal Chi. “serta kaya” Dia mengeluarkan rokok dan koreknya dari tas mungil kemudian meletakkan di meja sampai pada akhirnya menyulut sebatang rokok untuk mengusir dingin.<br />
BUKeT tak kenal area bebas asap rokok.<br />
“Gue kangen Teddy” kata Chi.<br />
“Teddy?” aku tertawa kecil.<br />
Setelah sekian lama topik Teddy menghilang dari permukaan, Chi akhirnya mengangkatnya malam ini. Teddy. Nama yang begitu ditangkap kepalaku pasti kuidentikkan dengan boneka Teddy Bear. Lucu dan menggemaskan seperti bayi yang baru belajar berjalan. Pria yang berada jauh bermil-mil dari tempat kami berpijak. Pria yang tak pernah pulang dan tak pernah tahu kalau ada wanita sebaik Chi menunggunya. Ah, merugi sekali dia.<br />
“Bagaimana gue bisa naksir berat sama pria Sagitarius?” kata Chi.<br />
“Salah naksir” kataku. Chi tertawa kecil.<br />
“Harusnya gue naksir Pisces kayak lo”<br />
“Ya, dan gue harusnya jadi pasangan sejati Scorpio, bukan Cancer yang kurang ajar itu”<br />
“Chandika?”<br />
“Iyalah”<br />
Chi tertawa cekikikan. Pesanan kami datang kemudian. Dave Koz mengiringi kehadiran dua gelas Ginger Chocolate yang mengepul. Aku tak sabar meneguknya. Minuman ini mengingatkan aku pada kehangatan dan keterbukaan Chandika pada tiap wanita.<br />
Oh, akankah dia menemukan Call Me Shark di toko buku? Kuharap ia membacanya dan segera menghubungiku.<br />
“Chandika pasti besar kepala kalo baca buku lo” kata Chi.<br />
“Yah, memang itu yang gue pengen soalnya dia emang layak besar kepala” kataku. “gue masih penasaran, kekurangan macam apa yang dia miliki, yang bisa bikin gue ilang feeling”<br />
“Kentutnya bau kali” kata Chi sambil mencari tissu untuk mengelap coklat yang menempel pada kedua sudut bibir. “ato barangkali dia rajin pergi ke salon, lo kan ga suka pria yang suka nyalon?”<br />
“Idih, jangan sampek deh”<br />
“Lo tau kan, orang-orang yang hampir ga punya kekurangan, biasanya punya kekurangan diluar sangkaan kita yang bisa bikin kita ilang feeling”<br />
Jam sembilan lebih dua puluh. Chi berada pada ‘posisi wuenak’ sambil menulis sms entah untuk siapa. Sedang aku sibuk melipat tissu membentuk bunga teratai kemudian kutumpangi gelas diatasnya. Cawan yang megah. Semakin larut BUKeT makin ramai. Beberapa anak muda mulai berdatangan. Seluruh kursi di dalam atau luar hampir semuanya telah diduduki dan ada bermacam aktivitas di tiap meja mulai dari permainan jemari sampai monopoli.<br />
“Kalau saja pria ibarat cat kuku” kata Chi. “Gue bakal beli nail polish remover sebanyak-banyaknya”<br />
Aku tertawa. Imajinasi Chi kadang-kadang lebih tinggi dari aku dan itulah salah satu kelebihannya yang aku suka. Orang Scorpio tak banyak bicara tapi begitu keluar ide, matilah semua ide yang telah ada.<br />
“Teddy kirim kabar?” tanyaku.<br />
“Ya, kabar angin barangkali. Menulis e-mail pun nggak. Fuih!” kata Chi. “Coba gengsi gue nggak setinggi tiang listrik”<br />
“Makan tuh gengsi” kataku. Padahal aku sendiri juga begitu.<br />
“I’m waiting for a sign, Ted…” pekik Chi gemas.<br />
Aku tertawa. Lucu sekali melihat Chi dibuat kalang kabut seorang pria. Dia bisa jadi sebegitu noraknya.<br />
“Sagitarius kurang peka, Scorpio terlalu gengsi” kataku.<br />
“Jadi menurut lo jalan apa yang harus gue tempuh?”<br />
Everlasting Love-nya Jamie Cullum mengalun ringan dan enerjik. Chi tiba-tiba mengajak Jamie Cullum duet ilegal dengan suara yang bisa didengar hampir semua orang disini dan ia tak peduli. Sahabatku itu tak bertanya lagi tentang jalan apa yang harus dia tempuh. Barangkali dia tahu aku akan menjawab begini “Tentu saja jalan lurus..“</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dediver.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dediver.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dediver.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dediver.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dediver.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dediver.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dediver.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dediver.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dediver.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dediver.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dediver.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dediver.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dediver.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dediver.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dediver.wordpress.com&amp;blog=7371502&amp;post=42&amp;subd=dediver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dediver.wordpress.com/2009/04/17/guratan-1-lanjutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2e82f5325f3cc7040924f791e8fac19?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">catastrovaprima</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guratan 1</title>
		<link>http://dediver.wordpress.com/2009/04/17/guratan-1/</link>
		<comments>http://dediver.wordpress.com/2009/04/17/guratan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 11:50:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catastrova Prima</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dediver.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Kenangan tentang ia. Sungguh ia adalah inspirasi. Pria yang diam-diam pernah menyita hampir seluruh hatiku namun takdir terpaksa menempatkannya pada masa lalu. Tidak sekarang. Meski masa depan masih bertajuk entah. Ah, pernahkah ia tahu seberapa dalam aku terluka karena kepergiannya? Apa dia memikirkanku seperti tiap hari aku bertanya-tanya seperti apa wujudnya setelah bertahun-tahun menghilang. Apakah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dediver.wordpress.com&amp;blog=7371502&amp;post=39&amp;subd=dediver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Kenangan tentang ia.</strong><br />
<em>Sungguh ia adalah inspirasi.<br />
Pria yang diam-diam pernah menyita hampir seluruh hatiku namun takdir terpaksa menempatkannya pada masa lalu. Tidak sekarang. Meski masa depan masih bertajuk entah.<br />
Ah, pernahkah ia tahu seberapa dalam aku terluka karena kepergiannya? Apa dia memikirkanku seperti tiap hari aku bertanya-tanya seperti apa wujudnya setelah bertahun-tahun menghilang. Apakah dia masih utuh atau telah jadi santapan pengurai dan menyatu dengan alam semesta.<br />
Sendu, kunikmati serbuan air hujan di malam hari. Saat terbaik untuk menitikkan air mata karena tak ada seorangpun mendengar isak yang bersatu dengan irama hujan. Mencintainya seperti sedang berada jauh dari logika. Tapi, itulah indahnya daripada tidak memiliki cinta untuk bertahan hidup.<br />
Pulanglah, Samudera. Kau tahu persis aku tak mampu hidup tanpamu meski kenyataannya sampai saat ini aku masih bernafas. Kenapa kau melakukan ini pada perempuan yang bahkan pernah kau inginkan jadi tumpuan terakhir kemanjaanmu? Terkutuklah kamu selamanya.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Chandika</strong><br />
Ia duduk bersilang kaki di kursi rotan sambil merentangkan novel setebal satu setengah sentimeter karangan Jim Lynch yang tadi siang ia pinjam dari base camp Diving Club. Matanya yang berada dibalik kacamata minus itu bergerak dari kiri ke kanan dengan kecepatan sangat menakjubkan. Lebih cepat dari gerakan kecoa yang sedang bermain petak umpet dan lebih teratur. Barangkali selain terlatih membaca cepat, ia juga turunan robot.<br />
Namanya Chandika. Lajang berusia 25 tahun yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyelam itu memutuskan tinggal di rumah sepulangnya dari Pulau Menjangan. Setidaknya untuk tiga hari ini, ia ingin meluangkan waktu untuk Omanya, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bunaken yang eksotis itu.<br />
Hampir lima tahun terakhir ini ia melakukan ekspedisi jelajah lautan. Ia memulainya sejak berada di bangku kuliah. Adrenalinnya begitu cepat naik saat kapal mulai menjauhi bibir pantai. Hanya dengan berbekal tabung oksigen ia menjatuhkan diri ke air, beradaptasi dengan kedalaman  yang sedikit menimbulkan rasa sakit di hidung atau telinga karena perbedaan tekanan udara, kemudian bergerak bebas diantara gerombolan ikan. Kata Omanya, Chandika mirip ayahnya waktu muda. Mereka sama-sama suka menyelam. Ayahnya bahkan pernah menyelami beberapa lautan di negeri orang tanpa pamit hanya untuk mengambil sebuah gambar biota laut yang sangat langka. Sampai di akhir hayatnya—waktu itu Chandika masih lima tahun—laki-laki yang bekerja sebagai dosen itu masih sering menjelajah sebagai aktivis penyelamat terumbu karang.<br />
Tak aneh bila Chandika mewarisi jejak ayahnya. Ibarat buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Chandika mengidolakan ayahnya meski ia lupa bagaimana detail wajahnya. Yang ia miliki hanya koleksi foto ayahnya saat berada di bawah laut—lengkap dengan perangkat selamnya—yang diberikan ibunya sebelum meninggal. Ratusan foto dengan ratusan gaya. Sejak saat itu Chandika terobsesi. Ia belajar selam secara formal di sebuah sekolah selam waktu SMU dan ia telah mahir saat duduk di bangku kuliah. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia jatuh cinta pada pesona bawah laut yang membuat jantungnya berdesir seperti dihantam angin. Ia percaya laut memberi kehidupan dan disanalah ia seharusnya.<br />
Sebuah sms tiba-tiba masuk.<br />
Chandika meletakkan pembatas pada halaman terakhir yang selesai ia baca kemudian meletakkan novel yang berkisah tentang laut dan makhluk-makhluk penghuninya itu di meja. Sms dari Alea.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>lo di rmh ya, bang? kpn pulang dr menjangan?</em></p>
<p style="text-align:justify;">Seminggu penuh Chandika berkeliaran di Menjangan kemudian ke Bali. Tapi, bagaimana Alea tahu dia ada di rumah hari ini padahal ia sengaja tidak memberi kabar. Awalnya ia sempat berpikir Alea seorang cenayang sampai akhirnya ia menemukan kemungkinan lain bahwa Alea pergi ke base camp. Padahal ia sengaja menghindari mahasiswa semester dua yang sering mengiriminya coklat itu. Alea tak pernah berhenti bertanya bila Chandika membagi cerita. Ia selalu ingin Chandika bercerita sampai ke hal yang paling mikro, dan saat ini Chandika sedang malas bercerita. Ia tidak membalas sms gadis tomboy itu dan melanjutkan membaca novel. Tanggung. Tinggal beberapa halaman lagi. Ia penasaran.<br />
Ada sms&#8230; (suara Doraemon)<br />
Untuk sementara Chandika benar-benar tidak peduli dengan suara Doraemon yang cempreng itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dede</strong><br />
Aku duduk berhadapan dengan monitor sambil mengetik. Malam ini, seluruh ide mengucur dengan deras seperti air kran yang bocor. Aku kewalahan. Hampir sebulan aku tidak produktif. Lemah inisiatif. Otakku mendadak mati suri dalam berimajinasi. Jauh dari sensitif. Dan hampir tiap malam aku gelisah karena tidak punya pekerjaan yang lebih bermanfaat selain menonton televisi dan main Dinner Dash2 di komputer.<br />
Kutulis tentangnya di sini, pada tiap lembar halaman Microsoft Word yang putih. Aku tahu semua tentangnya mulai dari hal paling detail termasuk ukuran celana dalamnya. Laki-laki penyuka warna putih itu mirip ikan. Sangat licin dan sulit ditangkap. Ia bergerak bebas sekehendak hati tanpa memikirkan siapapun. Ia mencintai laut lebih dari apapun. Dan satu hal yang tidak pernah aku tahu. Isi hatinya yang seluas Pasifik itu.<br />
Laki-laki charming itu seolah membangun sebuah tembok besar yang sangat kokoh sebagai pembatas hati kami. Ia membuatku layu sebelum berkembang. Tapi barangkali aku sendiri yang tidak pernah berusaha memasuki hidupnya. Aku lebih suka memerankan tokoh teman daripada tokoh yang lain. Lebih luwes dan bebas.<br />
Kini setelah beberapa tahun kami tidak saling bersua, aku masih saja menjadikannya inspirasi. Diam-diam aku masih memikirkannya saat bintang-bintang bermunculan di angkasa pada malam hari, aku juga masih menyimpan foto-foto kami bersama teman-teman di sebuah acara amal dan aku membeku sekejap—berharap dia membaca sms yang tidak pernah sampai atau membaca pesan yang kukirim lewat email. Tiba-tiba aku ingat, dulu aku sering bilang padanya kalau aku ini tak lebih dari titik bintang yang sangat kecil bila dilihat dari bumi. Dan ia akan bilang ‘meski kecil tapi langit tanpa bintang tetep ga enak buat dilihat, Del!’<br />
Malam ini kutulis tentang petualangannya menakhlukkan dive site di berbagai tempat menakjubkan yang pernah ia kunjungi. Kecintaan dan kepeduliannya pada satwa-satwa air membuat orang berpikir kalau dia sosok yang sangat perhatian. Aku masih ingat saat kuminta ia membawakan benda dari bawah air untuk kusimpan, dengan halus ia menolak kemudian sebagai gantinya ia memberiku sebuah dog tag bergambar ikan—simbol zodiakku. Ia adalah petualang sejati dengan kecintaan murni pada bagian dunia yang didominasi oleh air dan menebarkan sejuta pesona itu. Ia bergerak bebas segagah hiu.<br />
“De, gue udah atur pertemuan lo ma temen gue yang punya perusahaan penerbit itu. Dia minta lo nemuin dia di Blue lusa jam satu siang. Jangan lupa bawa draft-nya. Dia bakal ngebuat buku lo jadi best seller” kata Chi dari ruang tamu.<br />
Aku buru-buru menghampiri Chi yang sedang duduk di sofa dan menanyakan apakah dia serius atau sekedar bercanda. Chi melotot ke arahku. Aku meringis sambil tersipu-sipu.<br />
“Ye, gue cuman pengen lo tenar trus dapet banyak duit. Itu aja. Simbiosis mutualisme lah intinya. Lo paham kan? Lagian potensi lo yang segede Gunung Bromo itu sayang banget kalo cuman dianggurin nggak jelas”<br />
“Wah thanks ya, Chi” kataku sambil melingkarkan tanganku ke lehernya yang jenjang. Kuciumi pipinya yang sehalus sutera itu. Chi langsung bergidik dan mendorongku menjauh. Takut ketularan rabies, katanya. Sialan.<br />
“Tapi gue nggak bisa nemenin lo. Gue ada sedikit urusan” kata Chi sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Chandika</strong><br />
Ia masukkan kotak catur berukuran super mini ke dalam ranselnya yang sudah mulai penuh. Di waktu senggang, Chandika suka menantang orang main catur. Apalagi kalau ada Alea. Remaja berusia 19 tahun itu beberapa kali mengikuti turnamen meski lebih sering jadi pecundang. Tapi melawan Chandika, ia selalu menang. Kalau sudah begitu, Alea pasti minta imbalan yang kadang-kadang belum ia pikirkan. “Nanti aja kalo udah kepikiran, Bang”, begitu dalihnya. Bisa ditebak, Chandika pun punya banyak hutang. Jadi, siapa yang bodoh?<br />
Jam delapan lewat seperempat. Chandika menuruni tangga menuju ruang makan untuk sarapan pagi. Ia nikmati tiap anak tangga tanpa langkah tergesa-gesa sambil mendengarkan lagu yang mengalun dari ipod. Rumah seluas istana itu lengang. Omanya tak tampak. Beberapa pramuwisma berseragam sedang menjalankan tugasnya masing-masing tanpa bersuara kecuali bila Chandika mengajaknya bicara karena alat lebih sering bersuara. Mesin pemotong rumput yang sedang beroperasi di samping rumah berbunyi dengan teratur, begitu juga dengan mesin sedot debu di ruang tamu. Tak ada ribut atau rusuh demo pramuwisma yang minta kenaikan gaji.<br />
Sepiring nasi goreng dengan telur dadar yang diiris tipis dan garnis cantik siap disantap Chandika. Disebelahnya, berdiri tegak gelas tingggi berisi air putih sebagai pendamping. Chandika tersenyum kemudian berdoa sebelum memasukkan sesendok nasi gorengnya yang pertama ke dalam mulut. Ia selalu rindu nasi goreng rumah bila sedang berada di perjalanan. Tak pernah ada yang seenak buatan Bu Inah—salah satu pramuwisma yang bekerja di dapur.<br />
Begitulah hidup Chandika. Berpetualang sebagai aktivis penyelamat terumbu karang. Pulang ke rumah untuk sementara kemudian melakukan ekspedisi lagi. Ia teramat mencintai laut dan isinya. Ia benci tangan-tangan jahil perusak yang tak berperasaan. Laut adalah tempat paling aman untuknya bersembunyi. Laut adalah dirinya. Dan lautlah yang memberi ia cinta.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Flash back<br />
Bunaken. </strong><br />
Laut selalu membuatku merinding karena mengingat Tuhan. Desau angin berbisik yang beradu dengan amukan ombak adalah perpaduan simponi yang harmonis. Entah kenapa sejak kecil aku selalu merasa laut memberiku banyak sesuatu yang mendamaikan hati. Pasir-pasir lembut yang mengotori kaki membuatku tampak lebih jantan daripada teman-temanku yang lebih suka main pedang-pedangan. Pekikan burung yang nyaring hampir tak pernah lepas dari perhatianku. Dan air laut yang menari saat senja tiba mampu membuat mulutku ternganga lebar seperti baru saja melihat jerapah bermain hola hop. Sempurna.<br />
Aku suka berjalan di pantai saat sore tiba. Pergantian siang menuju malam. Ya, dan disitulah aku belajar tentang sebuah pergantian yang tidak selalu buruk. Bahwa sebuah pergantian juga bisa begitu indah. Matahari tenggelam dengan bijaksana dan kegelapan malam menyapa ramah. Aroma laut yang khas tak pernah kulupakan sepanjang hidupku, dan aku selalu merindukannya bila aku berlama-lama terjebak dalam rutinitas kota Jakarta.<br />
Di pantai, aku dan seorang teman baik bernama Adelia pernah saling bercerita tentang diri kami masing-masing. Kuceritakan padanya tentang gemuruh ombak yang selalu memanggil-manggil namaku, beberapa dive site terbaik di seluruh negeri yang pernah aku kunjungi, juga obsesi-obsesiku yang berhubungan dengan laut. Adelia barangkali selalu merindukan cerita-ceritaku, meski dia tidak bisa menyelam. Dia sering mengirimi aku e-mail dan menanyakan kabar lautku, juga menagih cerita-cerita menarik hasil perjalananku. Dengan senang hati aku pasti akan menceritakan padanya tentang Barakuda, Hiu Karang, Kuda Laut, Ketam, Bintang Laut, Timun Laut, juga Sleeping Parrotfish.<br />
Saking senangnya, ia pernah minta dibawakan kenang-kenangan dari dalam laut untuk disimpan misalnya secuil terumbu karang. Kutolak dengan halus dan kuganti dengan dog tag bergambar ikan—simbol zodiaknya. Ia tertawa dan girang bukan kepalang. Katanya, aku sok pahlawan.<br />
Sekarang giliran Adelia, akan kuceritakan tentang dia sedikit yang aku tahu karena aku memang tak banyak tahu menahu tentangnya kecuali kesukaannya menulis. Apa saja yang menarik akan ia tulis, kadang ia kirimkan tulisan-tulisannya padaku dan entah kenapa aku selalu saja tersenyum membacanya. Tak pernah jenuh, tak pernah kapok, dan ketagihan seperti pecandu narkoba. Adelia pandai mengolah kata seperti seorang koki yang gemulai membuat kue tart.<br />
Hubunganku dan Adelia tak ada yang istimewa selain pertemanan yang begitu mengasyikkan. Kami sering bertukar info tentang buku-buku bagus yang layak dibaca, juga film-film spektakuler yang wajib ditonton. Kadang kala, diwaktu senggang, kami sering menghabiskan waktu berdua untuk mengobrol di atas bukit sambil makan roti bakar. Adelia memang teman yang baik. Aku menyukainya.<br />
Bunaken mengingatkan aku pada puisi yang ditulis Adelia untukku. Puisi sederhana yang membuat pipinya memerah setelah selesai membacanya di depanku. Setelah itu ia lempar kertasnya di laut, katanya biar terbawa air laut, biar mengembara sampai ke ujung dunia mencari sebuah cinta. Begitulah Adelia, sesekali ia pun terlalu melankolis layaknya wanita pada umumnya.<br />
Dan untuk waktu yang cukup lama kami tak pernah bersua atau saling menghubungi karena semuanya terputus begitu saja. Bagaimana kabarnya sekarang, aku ingin sekali bertemu dengannya dan bercerita tentang banyak hal yang belum sempat kuceritakan. Aku ingin melihat matanya berbinar-binar karena antusias pada kabar juga gosip-gosip di bawah sana.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dediver.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dediver.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dediver.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dediver.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dediver.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dediver.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dediver.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dediver.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dediver.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dediver.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dediver.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dediver.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dediver.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dediver.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dediver.wordpress.com&amp;blog=7371502&amp;post=39&amp;subd=dediver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dediver.wordpress.com/2009/04/17/guratan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2e82f5325f3cc7040924f791e8fac19?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">catastrovaprima</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prolog.</title>
		<link>http://dediver.wordpress.com/2009/04/17/prolog/</link>
		<comments>http://dediver.wordpress.com/2009/04/17/prolog/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 09:22:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Catastrova Prima</dc:creator>
				<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dediver.wordpress.com/2009/04/17/prolog/</guid>
		<description><![CDATA[Untuk: Chandika Aku, barangkali hanya sebesar titik bintang dalam malam Langit terlalu luas untuk menjadikan aku ratu Langit juga terlalu gelap untuk membuatmu tahu Aku berada diantara jutaan bintang Aku, barangkali hanya tetes embun di pagi hari Bergelantungan pada pucuk daun bunga krisan Menanti sebuah goyangan dan terjatuh Kemudian menguap ditelan sinar mentari pagi Aku, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dediver.wordpress.com&amp;blog=7371502&amp;post=38&amp;subd=dediver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Untuk: Chandika</strong></p>
<p>Aku, barangkali hanya sebesar titik bintang dalam malam<br />
Langit terlalu luas untuk menjadikan aku ratu<br />
Langit juga terlalu gelap untuk membuatmu tahu<br />
Aku berada diantara jutaan bintang</p>
<p>Aku, barangkali hanya tetes embun di pagi hari<br />
Bergelantungan pada pucuk daun bunga krisan<br />
Menanti sebuah goyangan dan terjatuh<br />
Kemudian menguap ditelan sinar mentari pagi</p>
<p>Aku, barangkali hanya secuil kisah dalam hidup<br />
Sekecil sel yang tak kasat mata<br />
Tak terjangkau pula di kedalaman hatimu<br />
Dan musnah tanpa meninggalkan jejak kenangan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dediver.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dediver.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dediver.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dediver.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dediver.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dediver.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dediver.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dediver.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dediver.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dediver.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dediver.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dediver.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dediver.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dediver.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dediver.wordpress.com&amp;blog=7371502&amp;post=38&amp;subd=dediver&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dediver.wordpress.com/2009/04/17/prolog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2e82f5325f3cc7040924f791e8fac19?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">catastrovaprima</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
